PANGKALPINANG — Suka cita lebaran tak saja silaturahmi dengan keluarga yang dirindukan, tetapi menikmati berbagai santapan khas lebaran pun turut dirindukan.
Menu khas lebaran seperti rendang, opor, semur dan satai atau sate menjadi pilihan wajib kala lebaran. Tapi ternyata, menu itu tak bertahan lama, hari ketiga biasanya masyarakat mulai berburu menu khas lokal yang lebih ringan dan sekaligus menghilangkan jenuh mengkonsumsi daging.
‘Lungoy’, masyarakat khas bangka menyebutnya, yang berarti perasaan bosan, karena mengkonsumsi sesuatu secara berlebihan atau terlalu sering.
Ahli gizi yang juga dosen di Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang, Karina Dwi Handini menyebutkan rasa jenuh yang dirasakan ini karena pada dasarnya tubuh memerlukan zat gizi yang bervariasi mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.
Sajian lebaran seperti rendang, gulai, opor ayam dan lontong sayur semuanya menggunakan santan yang mengandung lemak jenuh. Satu penukar santan (40 gram) mengandung sekitar 9 gram lemak. Dalam satu hari, konsumsi santan yang aman sekitar 1,5 penukar atau 60 gram.
Oleh karena itu, sambungnya perlu diimbangi dengan konsumsi bahan pangan lainnya seperti buah dan sayuran yang memberikan efek menyegarkan ketika dikonsumsi.