PANGKALPINANG, SEDULANGDOTCOM — Bangka Belitung (Babel) menjadi provinsi ketiga dengan pengeluaran makanan tertinggi di Indonesia berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), Minggu (31/6/2026).
Rata-rata masyarakat Babel mengeluarkan Rp921.366 untuk makanan, di bawah Papua Pegunungan secara nasional dengan pengeluaran makanan sebesar Rp1.239.935 per kapita per bulan, dan Kalimantan Timur dengan Rp933.746.
Sementara itu, Babel berada di atas Papua Barat Daya, Papua Barat, Kalimantan Tengah, hingga Kepulauan Riau. Tingginya pengeluaran makanan ini menunjukkan bahwa biaya konsumsi pangan di negeri Serumpun Sebalai relatif besar dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga bahan pangan, biaya distribusi antarpulau, hingga pola konsumsi masyarakat yang cukup tinggi terhadap kebutuhan makanan.
Jika dibandingkan dengan Upah Minimum Provinsi (UMP) Bangka Belitung tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp4.035.000 per bulan, maka pengeluaran makanan per kapita mencapai sekitar 25 persen dari nilai UMP.
Artinya, hampir seperempat pendapatan minimum pekerja digunakan hanya untuk memenuhi kebutuhan makan satu orang. Secara umum, angka tersebut masih dapat dikategorikan dalam batas yang relatif wajar bagi pekerja lajang yang tinggal sendiri.
Namun, kondisi akan menjadi lebih berat apabila pekerja harus menanggung anggota keluarga, membayar biaya sewa rumah, transportasi, listrik, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan lainnya.
Di sisi lain, meski pengeluaran makanan Babel termasuk tertinggi di Indonesia, provinsi ini juga memiliki UMP yang tergolong tinggi di wilayah Sumatera. UMP Babel sebesar Rp4.035.000 bahkan menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera pada tahun 2026, atau naik 4,05% dari tahun lalu.
Dengan demikian, tingginya pengeluaran makanan di Babel masih relatif diimbangi oleh tingkat upah minimum yang juga cukup tinggi. Namun bagi rumah tangga dengan jumlah anggota keluarga lebih banyak, kenaikan harga pangan tetap berpotensi memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama jika pertumbuhan pendapatan tidak meningkat secepat biaya kebutuhan pokok.












